Mengingat luasanya sebaran penduduk (misalnya Indonesia), mulai
wilayah perkotaan sampai kedaerah pelosok, daerah pegunungan yang jauh,
bahkan pulau-pulau kecil dan daerah terpencil lainya, sedangkan penduduk
di wilayah terpencil, walaupun jumlah penduduknya relatif kecil dan
dengan segala keterbatasan (SDM dan fasilitas lainya), tetap perlu
mendapat pelayanan siaran televisi seperti halnya masyarakat perkotaan.
Maka TVRI sebagai televisi yang dimiliki pemerintah mengambil alternatif
untuk membangun pemancar TV Unattended, yang secara garis besar
sistemnya diuraikan sebagai berikut.
A. PENGERTIAN
Stasiun pemancar televisi “Unattended” adalah stasiun pemancar
televisi yang dapat bekerja atau beroperasi tanpa petugas operator.
Sedangkan stasiun pemancar televisi “Attended” adalah stasiun pemancar
yang dioperasikan oleh petugas operator. Stasiun pemancar TV Unattended
dari cara operasinya dapat dibedakan dalam 2 (dua) katagori yaitu :
1. Remote Control Operation
Stasiun pemancar televisi Unattended secara remote control
pengoperasiannya dikendalikan dan dipantau dari suatu tempat tertentu
yang layak dihuni dan dilakukan dengan telemetri. Untuk itu diperlukan
saluran transmisi untuk telemetri dua arah guna menyampaikan
perintah-perintah operasional dan menerima laporan hasil monitoring.
Sistem Unattended type ini biasanya digunakan untuk pemancar-pemancar
yang memiliki daya output besar, yaitu diatas 5 (lima) KW. Pemancar
tersebut merupakan pemancar TV induk (mother station) yang akan direlay
oleh stasiun-stasiun transmisi pengulang. Di negara-negara maju, dimana
telepon telah tersedia sampai di pelosok-pelosok daerah, saluran
telemetri dapat mengunakan saluran telepon.
2. Automatic Control Operation
Stasiun pemancar televisi Unattended sistem “Automatic Control
Operation”, pengendalian operasinya dilakukan oleh stasiun pemancar TV
sebelumnya melalui signal TV yang dipancarkan dan diterima oleh stasiun
pemancar TV Unattended dimaksud. Apabila stasiun pemancar TV tersebut
dikendalikan oleh suatu stasiun pemancar TV induk, maka apabila stasiun
pemancar TV induk beroperasi memancarkan sinyalnya, dan sinyal tersebut
diterima oleh stasiun pemancar TV Unattended dimaksud, maka ia secara
otomatis akan beroperasi, dan sebaliknya apabila pemancar TV induk mati,
tidak lagi memancarkan sinyalnya dan stasiun pemancar Unattended tidak
menerima signal, maka ia akan switch off, untuk menjamin kesinambungan
siaran, konfigurasi sistem sarana pemancarnya terdiri dari dua pemancar,
pemancar utama dan pemancar cadangan. Apabila pemancar utama mengalami
gangguan, maka pemancar cadangan secara otomatis mengambil alih tugas
pemancar utama. Konfigurasi ini biasanya digunakan untuk stasiun
transmisi pengulang (repeater station) dengan pemancar – pemancar yang
memiliki daya output 1 (satu) KW kebawah.
Monitoring untuk stasiun pemancar tipe ini dipercayakan kepada
masyarakat umum tanpa ikatan atau kepada beberapa orang dari masyarakat
didaerah pancarannya yang diberi tugas selaku informan. Tugas informan
dimaksud sangat sederhana, yaitu apabila siaran terganggu (tidak ada
siaran pada saatnya) agar melapor/ menelepon petugas stasiun pemancar
televisi terdekat. Monitoring seperti ini akan sangat efektif apabila
telepon telah menjangkau ke seluruh pelosok daerah dengan baik.
B. TUJUAN PEMBANGUNAN STASIUN PEMANCAR TV UNATTENDED
Sistem stasiun pemancar TV Unattended ini dirasakan sangat diperlukan
dewasa ini, sehubungan dengan telah berkembangnya jumlah
stasiun-stasiun pemancar TV yang telah mencapai angka 438 lokasi yang
tersebar di seluruh pelosok tanah air. Jumlah tersebut masih terus
berkembang dan sebagian besar berada diatas gunung/ bukit di daerah
terpencil. Namun sebelum membahas tentang syarat-syarat atau
spesifikasi, sebaiknya dibahas dulu tentang apa tujuan atau apa yang
diharapkan dari stasiun pemancar TV Unattended. Melaksanakan siaran yang
berupa siaran televisi bagi masyarakat di wilayah yang jauh, sulit
dicapai dan terpencil serta wilayah blank spot atau wilayah tidak dapat
menerima siaran TV dengan baik karena hambatan geografis dan sebagainya.
Hal-hal yang diharapkan yaitu antara lain :
a). Meniadakan sumber daya manusia,
untuk pengoperasikan peralatan, tidak diperlukannya sumber daya manusia
untuk mengoperasikan (operator) peralatan berarti dapat diperoleh
keuntungan (penghematan) berupa fasilitas operator di lokasi, fasilitas
sosial untuk keluarga operator serta tentunya gaji untuk operator
b).Tanpa pengamanan tenaga manusia,
¼br />
keuntungan pada butir B ini jenisnya sama dengan keuntungan sebagaimana
disebutkan dalam butir a diatas, kalaupun ada pengamanan oleh tenaga
manusia, mengenai jumlah dan sifatnya berbeda (kecil dan sederhana)
dengan pengamanan pada lokasi stasiun pemancar yang diopersikan tenaga
manusia, sehingga biayanya sangat rendah.
c). Menghemat biaya transportasi,
keuntungan yang diperoleh disini meliputi tidak ada biaya transportasi
untuk datang ke lokasi, Sedangkan frekuensi kegiatan pemeliharaan dan
perbaikan sangat tergantung dari reliability (kehandalan) dari peralatan
pemancar yang digunakan semakin handal peralatan tentunya semakin
berkurang frekuensi kerusakan dan sebaliknya. Semakin tinggi reliability
suatu peralatan semakin mahal harga peralatan tersebut. Namun dalam
sistim stasiun pemancar TV Unattended, apa bila digunakan peralatan
pemancar dengan tingkat reliability yang rendah maka akan sering terjadi
kerusakan dan harus sering didatangi untuk perbaikan, yang akhirnya
biaya pemeliharaan menjadi semakin tinggi.
d). Menghemat bahan bakar,
mengurangi atau bahkan meniadakan kegiatan pengisian bahan
bakar sangat tergantung dari kondisi fasilitas umum yang tersedia di
lokasi. Bila di sekitar lokasi sudah tersedia jaringan listrik PLN maka
tentu saja tidak diperlukan gebnerator sebagai penggerak mula utama,
melainkan hanya sebagai cadangan saja, sehingga kebutuhan bahan bakar
tidak terlalu besar. Sehingga dalam hal ini pemilihan lokasi sangat
penting. Disamping itu besarnya daya listrik yang diperlukan untuk
mengoperasikan peralatan. Apabila daya listrik yang diperlukan tidak
terlalu besar maka dapat digunakan pembangkit daya listrik alternatif
yang tidak menggunakan bahan bakar melainkan menggunakan solar cell.
C. KRITERIA DAN DESAINS STASIUN PEMANCAR TELEVISI UNATTENDED
Stasiun pemancar TV Unattended memiliki banyak kriteria tergantung
dari masing-masing disain. Setiap disain memiliki sifat atau ciri-ciri
untuk mendapatkan solusi dari tujuan/ harapan yang diinginkan beberapa
alernatif disain adalah sebagai berikut :
1. Otomatisasi Pengoperasian Peralatan
Sebagaimana telah diuraikan terdahulu otomatisasi pengoperasian peralatan dapat dibedakan dalam dua katagori yaitu :
a). Remote Control Operation
Katagori ini memerlukan biaya investasi yang lebih mahal dari
pada “Automatic Control Operation”, karena pengoperatian tetap dilakukan
oleh operator, hanya tidak dilakukan dilokasi stasiun pemancar yang
berada di daerah terpencil, melainkan dari suatu pusat pengendalian
dengan menggunakan remote control. Disamping itu kondisi atau status
peralatan di stasiun pemancar yang terpencil tersebut dikirimkan melalui
transmisi telemetri ke operator untuk dimonitor.
b). Automatic Control Operation
Katagori ini memerlukan biaya investasi relatif lebih rendah
dari pada “Remote Control Operation”. Karena pada automatic control
operation, peralatan yang digunakan untuk mengoperasikan stasiun
pemancar secara otomatis sangat sederhana, dan tidak diperlukan
pengiriman data kondisi dan status peralatan untuk monitoring. Sistim
otomatisasi hanya menggunakan sinyal dari pemancar sebelumnya (pemancar
induk) untuk menghidupkan dan mematikan peralatan. Pada saat pemancar di
induk beroperasi maka sinyal pancarannya diterima dan digunakan untuk
menghidupkan peralatan pemancar unattended, dan pada saat pemancar induk
sebelumnya dimatikan maka stasiun pemancar TV Unattended tidak menerima
sinyal dan secara otomatis memberikan perintah untuk mematikan
peralatan. Secara singkat dapat disampaikan bahwa beroperasi dan tidak
beroperasinya peralatan di stasiun pemancar unattanded tergantung pada
pengoperasian pemancar distasiun sebelumnya (pemancar induk).
2. Otomatisasi pengamanan
Otomatisasi pengamanan disini mungkin agak sulit atau mungkin
memerlukan beaya lebih tinggi dari pada menggunakan sumber daya manusia
sebagai pelaksana pengamanan. Di luar negri sistim pengamanan
menggunakan sistem alarm apabila tamu tak diundang memasuki stasiun
pemancar TV Unattended, sinyal alarm tersebut dikirim secara otomatis
akan dikirim ke stasiun pengendali, petugas di stasiun pengendali
kemudian menguji sinyal alarm untuk meyakinkan bahwa yang masuk adalah
tamu tak diundang. Setelah yakin, maka petugas melapor ke polisi dan
polisi akan datang ke stasiun Unattended melakukan pengamanan. Sistim
pengamanan sebagai mana diuraikan diatas hanya digunakan untuk pemancar
besar dan menggunakan sistem “Remote Control Operation”. Sedangkan untuk
stasiun-stasiun pemancar kecil yang menggunakan “Automatic Control
Operation”, menggunakan sistem alarm biasa, yaitu apabila tamu tak
diundang masuk ke ruangan pemancar maka alarm akan berbunyi dan
mengundang perhatian dan diharapkan polisi akan datang mengamankan.
3. Penggunaan Peralatan dengan Reliability tinggi dan sistem Back-Up
Tujuan utama pembangunan stasiun pemancar televisi dengan
sistem Unattanded adalah tidak diperlukannya petugas operator untuk
tinggal dilokasi yang terpencil serta mengurangi atau kalau mungkin
meniadakan kunjungan ke lokasi untuk perbaikan atau perawatan peralatan.
Tujuan ini ditetapkan karena biasanya lokasi stasiun pemancar yang
bersangkutan berada dipuncak bukit, ditengah hutan yang belum pernah
dijamah manusia sehingga untuk menuju ketempat lokasi memerlukan
pembangunan prasarana jalan yang cukup panjang dan mahal. Maka dapat
saja disusun disain stasiun pemancar televisi unattended yang pengiriman
peralatan dan material pembangunannya dikirim dengan helikopter.
Diharapkan setelah peralatan dipasang, sistem akan beroperasi secara
otomatis dengan baik selamanya. Untuk mencapai kondisi ini maka
diperlukan peralatan yang betul-betul handal atau memiliki reliability
yang tinggi. Apabila reliability peralatan kurang baik, maka akan sering
terjadi kerusakan yang memerlukan perbaikan. Untuk melaksanakan
perbaikan diperlukan biaya tinggi karena lokasi hanya dapat dicapai
dengan helikopter. Meningkatnya frekuensi kerusakan memerlukan
peningkatan kunjungan yang memerlukan biaya yang besar, dan apabila ini
terjadi maka sistem stasiun Unattended tidak lagi efektif.
Disamping tingkat kehandalan yang tinggi untuk peralatan diperlukan pula
penggunaan sistem back-up atau 1 + 1. Sistem back-up dimaksud adalah
sistem peralatan yang terdiri dari sub-sistem peralatan utama dan
sub-sistem peralatan cadangan. Dalam hal sub sistem peralatan utama
terganggu maka sub-sistem peralatan cadangan menggantikan peran
sub-sistem peralatan utama. Sistem seperti ini mempunyai keunggulan
disamping dapat menjaga kesinambungan siaran, juga bagi petugas
maintenance atau petugas perbaikan cukup datang dengan peralatan
pengganti dan peralatan yang rusak dibawa ke workshop untuk perbaikan.
Perbaikan tidak perlu dilakukan di lokasi stasiun pemancar, karena
disamping akan memerlukan waktu yang lama, juga diperlukan alat ukur
yang lebih banyak yang pada gilirannya meningkatkan biaya perbaikan.
4. Sistem Catu Daya
Sistem catu daya di Indonesia merupakan permasalahan
tersendiri. Di luar negri, di negara-negara yang telah maju hal ini
bukan lagi merupakan masalah, karena jaringan catu daya listrik dari
perusahaan listrik seperti PLN sudah tersebar ke seluruh pelosok negeri
yang bersangkutan. Di Indonesia sebagaimana di negara yang sedang
berkembang lainnya, jangankan di puncak bukit terpencil, di kota
kecamatanpun belum tentu tersedia catu daya listrik yang handal.
Penyediaan catu daya listrik dengan menggunakan diesel generator
sampai daya yang besarpun tidak ada masalah di Indonesia. Namun
permasalahannya adalah untuk lokasi yang terpencil tanpa ada prasarana
jalan menuju lokasi, diperlukan biaya yang tinggi untuk memasok bahan
bakar. Untuk catu daya listrik dengan daya rendah tidak menjadi masalah,
karena dapat di bangun dengan sistem catu daya listrik solar cell.
Untuk daya yang besar sistem catu daya listrik solar cell bukannya tidak
mungkin untuk dibangun, namun memerlukan biaya investasi yang tidak
sedikit.
Sampai saat ini TVRI mengoprasikan cukup banyak pemancar Unattended (antara lain lihat tabel)
Dilokasi pemancar tersebut TVRI menunjuk seorang penduduk setempat
untuk menjaga keamanan dan kebersihan. Sedangkan teknisi TVRI cukup
melakukan tugas berkala untuk pemeriksaan maupun perbaikan apabila
terjadi kerusakan. Sehingga TVRI menyebut kelompok pemancar tersebut
sebagai “semi” Unaatended, karena tetap tersedia tenaga manusia di
lokasi tersebut.
Daftar Stasiun Pemancar TVRI Semi Unattended
(Dibangun tahun 1991/ 1992)
D. SISTEM STASIUN PEMANCAR TVRI “SEMI” UNATTENDED
1. Sistem Peralatan
Sistem peralatan stasiun pemancar TVRI “semi” Unattended terdiri dari :
Gb. 1 Stasiun Pemancar TV Unattended
a). TVRO
TVRO merupakan singkatan dari Television Receive Only. Jadi
TVRO merupakan peralatan penerima satelite yang hanya digunakan untuk
menerima siaran televisi terdiri dari :
1). Antena Parabola
2). Alat penerima Satelite ( Satelite Reveiver )
Siaran TVRI dari stasiun pusat Jakarta di Senayan di transmisikan ke
stasiun bumi Cibinong melalui stasiun microwave Telkom di GATSU ( Jl.
Gatot Subroto). Dari stasiun bumi Cibinong siaran TVRI ditransmisikan
melalui UP-Link ke SKSD PALAPA yang kemudian mentransmisikan kembali ke
bumi ke seluruh wilayah nusantara. Siaran TVRI yang ditransmisikan
kembali ke bumi melalui frekuensi band 4GHz diterima oleh parabola dan
diteruskan ke penerima satelite (satelite receiver). Di satelite
receiver siaran TVRI yang dimodulasikan pada frekuensi 4 GHz band
didemodulasi (diproses) kembali sebagai input signal bagi pemancar TVRI
yang berfungsi untuk memancarkan kembali kepada masyarakat di wilayah
siarannya.
b). Pemancar TV
Pemancar TV yang digunakan disini adalah pemancar televisi dengan
sistem CCIR PAL B untuk frekuensi band VHF, dan sistem CCIR PAL G untuk
frekuensi band UHF. Sedangkan daya pancar yang digunakan sangat
tergantung dengan luas daerah yang ingin dijangkau (coverage area).
Tetapi dalam sistem stasiun pemancar TV Unattended, untuk mendapatkan
tingkat efisiensi yang tinggi, besarnya daya pancar pemancar perlu
dipertimbangkan bersamaan dengan penyediaan catu daya listrik dari
fasilitas umum yang tersedia. Apabila dilokasi yang telah ditentukan
untuk stasiun pemancar tidak tersedia catu daya listrik dari PLN, dan
menggunakan diesel generator sendiri tidak cukup effisien atau sulit
karena kondisi geografis, maka catu daya listrik alternatif adalah
menggunakan solar cell. Namun tingkat efisiensi tinggi yang masih dapat
diperoleh dengan menggunakan catu daya solar cell untuk pemancar
televisi dengan daya pancar sampai dengan 10Watt.
Konfigurasi pemancar televisi dapat di disain sesuai kebutuhan yaitu
single sistem, “cold stand-by sistem” atau “hot stand-by sistem”. Pada
Single sistem hanya memiliki satu sistem peralatan, dan tidak memiliki
sistem peralatan cadangan. Sehingga apabila peralatan pemancar mengalami
gangguan maka siaran akan terputus untuk daerah jangkauan yang
bersangkutan, sampai peralatan mendapat perbaikan.
Konfigurasi cold stand-by sistem dan hot stand-by sistem keduanya
memiliki sistem peralatan stand-by (cadangan). Pada cold stand-by
sistem, sistem peralatan cadangan akan beroperasi apabila sistem
peralatan utama mengalami gangguan. Perpindahan pengoperasian sistem
peralatan utama ke sistem peralatan cadangan dapat di disain secara
otomatis, namun siaran akan terganggu kurang dari satu menit. Secara
lebih rinci dapat dijelaskan sebagai berikut, misalnya Pemancar I
sebagai peralatan utama, dan Pemancar II sebagai pemancar cadangan.
Pemancar I (satu) beroperasi sebagai pemancar utama terhubung ke antena
dan Pemancar II (dua) sebagai pemancar cadangan terhubung ke dummy load
melalui “Coaxial switch”. Apabila Pemancar I (satu) mengalami gangguan,
maka Pemancar I (satu) secara otomatis akan dimatikan dan daya output
hilang (tidak ada). Tidak adanya daya output pemancar I (satu) merupakan
informasi (pemerintah) bagi Pemancar II (dua) untuk beroperasi
menggantikan peranan pemancar I (satu). Proses pergantian pemancar ini
secara bertahap adalah sebagai berikut : Pemancar I (satu) mendapat
gangguan, Pemancar I (satu) “Off”, Daya output pemancar I (satu) hilang,
coaxial switch yang semula menghubungkan Pemancar I (satu) ke Antenna
dan Pemancar II (dua) ke dummy load, berputar sehingga berfungsi
menghubungkan Pemancar II (dua) ke Antena dan Pemancar I (satu) ke dummy
load, Pemancar II (dua) “On” dan daya output pemancar II (dua)
disalurkan ke antenna untuk ditransmisikan.

Konfigurasi sistem pemancar hot stand-by sistem, beroperasi dengan
kedua sistem peralatan pemancar secara bersama-sama dan daya output
masing-masing pemancar bergabung, apabila satu pemancar memiliki daya
output sebesar 1 (satu) KW maka gabungan kedua pemancar menjadi 2 (dua)
KW. Apabila salah satu sistem peralatan pemancar mengalami gangguan,
sistem peralatan pemancar satunya masih tetap beroperasi sehingga
siaran tidak terhenti, hanya daya output pemancar menurun menjadi hanya
25 % dari nominal daya output pemancar.
2. Sistem Catu Daya Listrik
Sistem catu daya listrik yang paling menguntungkan adalah
apabila di lokasi telah tersedia jaringan listrik umum dari PLN, dan
sebagai cadangan dapat saja digunakan diesel generator. Apabila dilokasi
tidak terdapat jaringan listrik PLN maka diesel generator dapat
digunakan sebagai peralatan utama dan peralatan cadangan. penggunaan
diesel generator dapat didisain unuk daya berapa saja, namun untuk
stasiun pemancar Televisi Unattended, pengiriman bahan bakar secara
rutin perlu menjadi pertimbangan.
Pembangunan catu daya listrik yang tidak memerlukan pasokan bahan
bakar dapat digunakan sollar cell yang berfungsi mengubah energi panas
matahari menjadi energi listrik. Namun harga sollar cell dirasakan masih
cukup tinggi, sehingga berdasarkan hasil perhitungan, penggunaan sollar
cell untuk stasiun pemancar TVRI masih cukup efisien apabila digunakan
untuk mengoperasikan peralatan pemancar televisi dengan daya pancar
sampai dengan 10Watt/ untuk daya pancar lebih dari itu, bukan tidak
mungkin untuk di disain melainkan menjadi lebih mahal dan tidak efisien.
Maka pembangunan perdana stasiun pemancar TVRI “semi” Unattended yang
lokasinya terpencil dan belum tersedia jaringan PLN menggunakan catu
daya sollar cell dan daya pancar 10Watt.
3. Sistem Operasional
Sistem pengoperasian stasiun pemancar TVRI “semi” Unattended seharusnya
menggunakan sistem remote control operation, karena stasiun pemancar
yang dibangun bukan merupakan Stasiun Pengulang. Berhubung sistem ini
dianggap masih cukup mahal maka dicari upaya agar stasiun pemancar ini
dapat dioperasikan dengan sistem otomatic control operation dengan
melakukan beberapa modifikasi sehingga stasiun pemancar TVRI ini
merupakan stasiun pemancar “semi” Unattended.
Modifikasi yang dilakukan adalah bahwa seharusnya sistem otomatic
control operation bekerja apabila ada signal dari stasiun sebelumnya
(stasiun pemancar pengulang) namun berhubung signal syncronisasi
televisi dari TVRO selalu ada maka pemancar televisi akan hidup terus
menerus selama 24 jam sedangkan waktu TVRI tidak sampai 24 jam. Kondisi
seperti ini sangat tidak efisien dan membahayakan, karena disamping
merupakan pemborosan energi juga adanya kemungkinan dimanfaatkan oleh
pihak yang tidak bertanggung jawab. Modifikasi yang dilakukan adalah
bahwa pemancar televisi akan beroperasi apabila tersedia signal
syncronisasi dan pada jam-jam tertentu sesuai dengan jadwal siaran TVRI/
untuk itu ditambahkan peralatan “TIME CONTROL” yang dapat diprogram
setiap hari selama seminggu dan berulang terus. Misalnya pada hari
pertama (senin) pemancar beroperasi dari jam 05.30 sampai dengan jam
12.00 dan dari jam 14.00 sampai dengan jam, 24.00 dan seterusnya.